iringan pipit mencomooh padaku
cit..cit..cit..., hai pulanglah
tak kau lihat senja menyapu sore
kau tersenyum gila dengan telpon genggammu
tak kau dengar bilal telah berkumandang
magrib telah datang
segeralah kau pulang
sudah bosan bangku halte itu kau duduki
mungkin itulah bahasa yang ingin disampaikan pipit
tapi ku masih terpaku gila
melihat pesan di inbok
dari teman facebook baruku
lalu ku lihat langit di kotaku
lembayung mencoba mengukir namaku
tapi bulan telah muncul duluan
ku ambil saputanganku
lalu ku lempar ke langit hingga menutup bulan
aku tak mau
lembayung yang mengukir namaku
pergi karena munculnya bulan
di sekelilingku sudah sepi
pedagang bengkoang pun telah beranjak
hanya satusatu agen bus berteriak
pariaman...pariaman...pariaman
manga urang di pariaman jo
''kataku
tapi cuma dalam hati
lalu kupergi membawa senjaku sendiri
menyimpannya dalam tas loker kulitku
ku tak ingin senja ini berbagi dengan siapapun.
Aiatawa, 19mei
Tidak ada komentar:
Posting Komentar