Lelahku
Hitamkan saja mataku
biar gelap merajai malam
biar hening merajai sunyi
aku yang masih menerawang
merasa badan tak bertulang
benarkah ini lelahku
menikmati keringat hingga petang.
Sudutkota, 090410
Cari Blog Ini
Sabtu, 17 April 2010
Bolehkah Aku Mengatakan''ini sebuah puisi'
Bolehkah Aku Mengatakan''ini sebuah puisi'
Kubuka lagi secarik kertas, yang telah kulipat semalam
disitu telah ada barisan tulisan
dari coretan pensil yang tak tajam
belum begitu tersempurnakan
tak banyak yang ingin ku curahkan
berapa kata dalam perkataan
tentang; kejadian sebuah kewajaran
aku tak meramu dendam
ini adalah kehidupan
garis takdir harus dijalankan
dikala kita melihat perbedaan
itulah cobaan
pernah ku terngiang
tentang penghias malam
seorang teman yang ingin ditemani sinar rembulan
sahabat yang lainku berkata; aku hanya mau Berkawan dengan kerlipan bintang
bagaimana denganmu?
tanya mereka padaku
masih adakah lagi penghias malam
pelangi..., itu bukan sebuah jawaban
ia bukan penghias malam
ahh...aku ingat kunang-kunang
mampukah ia menerangi jalan
aku yang tak terbiasa dalam kesamaran?
kenapa ku pilih kunang-kunang
karena aku tak lagi punya pilihan
Sudutkota, 100410.
Kubuka lagi secarik kertas, yang telah kulipat semalam
disitu telah ada barisan tulisan
dari coretan pensil yang tak tajam
belum begitu tersempurnakan
tak banyak yang ingin ku curahkan
berapa kata dalam perkataan
tentang; kejadian sebuah kewajaran
aku tak meramu dendam
ini adalah kehidupan
garis takdir harus dijalankan
dikala kita melihat perbedaan
itulah cobaan
pernah ku terngiang
tentang penghias malam
seorang teman yang ingin ditemani sinar rembulan
sahabat yang lainku berkata; aku hanya mau Berkawan dengan kerlipan bintang
bagaimana denganmu?
tanya mereka padaku
masih adakah lagi penghias malam
pelangi..., itu bukan sebuah jawaban
ia bukan penghias malam
ahh...aku ingat kunang-kunang
mampukah ia menerangi jalan
aku yang tak terbiasa dalam kesamaran?
kenapa ku pilih kunang-kunang
karena aku tak lagi punya pilihan
Sudutkota, 100410.
Menurutku : Inilah Awal Kiamat (puisi)
Menurutku : Inilah Awal Kiamat (puisi)
..., Lihatlah manusia zamanku menangis tanpa tetes air mata lagi
ketika tertawa meneteslah air matanya
sungguh sandiwara bersahaja?
dimana-mana ku melihat amsal
ku ibaratkan langit itu pemimpin
kakinya tak menahan lagi ia akan rubuh
ku ibaratkan bintang itu pelindung
tapi bintang-bintang telah berjatuhan, bintang satu, dua, tiga..?
ku ibaratkan matahari itu kehidupan
tapi ia hanya bersinar dalam keredupan
namun panasnya mendidih dipori-poriku
laut telah terbelah
memang benar adanya, manusia tak kenal lagi persaudaraan
tongkat kehidupan telah membelah lautan jiwa manusia
manusia itu hidup dengan jiwa tapi tanpa hati
manusia telah bersurut dari kehidupannya
manusia telah dibudaki kebiadaban
manusia telah menggoreskan sembilu dinadi saudara-saudaranya
mereka menganggap agama itu hanya ritual
mereka menganggap pejuang agama itu hanya penyair
mereka menganggap kematian itu adalah sistem.
sudutkota, 150410
..., Lihatlah manusia zamanku menangis tanpa tetes air mata lagi
ketika tertawa meneteslah air matanya
sungguh sandiwara bersahaja?
dimana-mana ku melihat amsal
ku ibaratkan langit itu pemimpin
kakinya tak menahan lagi ia akan rubuh
ku ibaratkan bintang itu pelindung
tapi bintang-bintang telah berjatuhan, bintang satu, dua, tiga..?
ku ibaratkan matahari itu kehidupan
tapi ia hanya bersinar dalam keredupan
namun panasnya mendidih dipori-poriku
laut telah terbelah
memang benar adanya, manusia tak kenal lagi persaudaraan
tongkat kehidupan telah membelah lautan jiwa manusia
manusia itu hidup dengan jiwa tapi tanpa hati
manusia telah bersurut dari kehidupannya
manusia telah dibudaki kebiadaban
manusia telah menggoreskan sembilu dinadi saudara-saudaranya
mereka menganggap agama itu hanya ritual
mereka menganggap pejuang agama itu hanya penyair
mereka menganggap kematian itu adalah sistem.
sudutkota, 150410
Langganan:
Postingan (Atom)